Minggu, 22 Juli 2012

Pengobatan Islami Assyarif: TERAPI LINTAH

Pengobatan Islami Assyarif: TERAPI LINTAH



Terapi Spiritual


Peringatan Bagi Mereka Yang Terpedaya
Kitab Asal: Tanbih Al-Mughtarrin
Oleh: Syaikh Abdul Wahhab Asy-Syarani ra
Keluaran: Pustaka Hidayah
Halaman: 248 mukasurat

Salam

Setiap orang pasti pernah melakukan dosa. Kerana itu, sudah semestinya kita sering memohon ampun kepada Allah. setelah kita menangis bersimpuh dihadapan-Nya dan mengakui segenap dosa kita, biasanya kita beranggapan bahawa kita telah terbebas darinya dan merasa tenang dan aman dari siksa Allah. Benarkah demikian? Adakah jaminan bahawa tangisan kita telah menyentuh kasih-Nya sehingga Dia pasti mengampuni segenap dosa kita?.

Orang2 salih yang taat beribadah saja masih tidak merasa aman dari siksa Allah, apa lagi para pendosa seperti kita? Janganlah kita merasa tenang dengan amal2 salih yang tak jarang kita lakukan dengan cara yang sangat buruk, tidak memperhatikan adab2 dihadapan Allah dan belum tentu diterima oleh-Nya, sehingga kita melupakan keburukan2 kita sendiri? Janganlah kita terpedaya oleh anggapan bahawa kita sudah merasa aman dari siksa Allah berkat amal2 salih kita.

Fudhail ibn Iyadh ra berkata, ”Saat sebelum subuh, rambut para sahabat Nabi saw, biasanya nampak penuh berdebu, kerana mereka menjalani malamnya dengan sujud dan berdiri (Shalat sepanjang malam). Jika mengingat Allah swt, tubuh mereka bergoyang bagai pohon dihari berangin kencang. Air mata mereka mengalir hingga membasahi baju, bahkan nampak seperti sisa air wudhu. Namun, saat waktu subuh hampir tiba,mereka segera meminyaki wajah dan mencelak mata mereka, sehingga nampak seperti penidur lalai yang baru bangun dari tidurnya sepanjang malam.”

Imam Abu Bakr Ash Shiddiq ra. Berkata, ”Barangsiapa mampu menangis, menangislah!. Dan yang tidak mampu, berusahalah menangis!”.

Setiap malam, seorang putri tetangga Manshur ibn Al-Mutamar ra selalu melihat Manshur berdiri di atap rumahnya. Hanya saja, si puteri tetangga ini mengira Manshur sebagai tiang, kerana Manshur selalu lama berdiri tegak disana. Saat Manshur wafat, si puteri tetangga bertanya kepada keluarga Manshur, ”Kemana tiang yang setiap malam ku lihat berdiri tegak di atap rumah kalian?”. Mereka menjawab, ”ia telah menghadap Tuhannya Yang MahaTinggi nan MahaAgung.” Si putri tetangga bertanya heran,. ”Bagaimana boleh berlaku seperti itu?.” Mereka menjawab, ”Sebenarnya, di atap rumah kami tidak ada tiang. Yang setiap malam engkau lihat berdiri tegak di sana adalah Manshur.” Setiap kali menceritakan kisah ini, Imam Ahmad ibn Hanbal ra selalu menangis hingga janggutnya basah.
Amir Al Mukminin Umar ibn Al khaththob ra berkata, ”
Ciri engkau benar2 bertobat adalah mengakui dosa2mu.Ciri bahawa engkau benar2 ikhlas dalam beramal adalah membuang ujubmu jauh2.Ciri bahawa engkau benar2 bersyukur adalah mengakui kekuranganmu dalam beribadah.”
Seseorang bertanya kepada Siti Aisyah ra, ”Wahai Umm Al-Mu’minin, bila seseorang mengetahui bahawa dirinya termasuk orang yang baik?”.Ia menjawab, ”Saat ia tahu bahawa dirinya termasuk orang yang buruk.”Orang itu bertanya lagi, ”Bila seseorang mengetahui bahawa dirinya termasuk orang yang buruk?”Ia menjawab, ”Saat ia menganggap dirinya sebagai orang baik.”
Hasan Al-Bashri ra berkata, "kepada orang2 yang bersungguh dalam ibadah, ”Demi Allah! Jika dibandingkan dengan para salaf, kesungguhan kalian dalam beribadah bagaikan main2."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar